Gelar Millenial Agricultural Forum, Kementan Dorong Pemuda Wujudkan Kedaulatan Pangan dan Energi

Medan – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan, di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian RI, menggelar Milenial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 18 secara daring, Sabtu (2/5/2026).

Mengusung tema “Optimalisasi Sumber Daya Pertanian dalam Mewujudkan Swasembada Pangan dan Energi Terbarukan”, kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, penyuluh, dan pelaku usaha tani dari seluruh Indonesia. Peserta memperoleh e-sertifikat dan kesempatan mengikuti undian hadiah.

Forum dipandu Sri Rahmadayani Setiawati dan Farhan Ammar, menghadirkan narasumber Taufiq Bin Nur (Universitas Sumatera Utara) dan Sukmi Alkausar (Direktur Aliansi Organis Indonesia), dengan moderator Abrar Ashari Siregar.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menegaskan pertanian merupakan pilar kedaulatan bangsa. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan kewirausahaan.

“Generasi muda harus mampu menjadikan pertanian sebagai sumber pangan sekaligus energi, menuju kemandirian nasional,” ujarnya.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa dunia tengah menghadapi krisis pangan global. Berdasarkan data FAO, 725 juta penduduk dunia mengalami kekurangan gizi, dengan mayoritas berada di Asia. Di Indonesia, 7–16 persen penduduk berisiko kelaparan dan 21,5 persen balita mengalami stunting.

“Kondisi ini menuntut inovasi, termasuk pengembangan energi terbarukan berbasis pertanian seperti biogas, bioetanol, dan biomassa,” jelasnya.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menambahkan bahwa transformasi pertanian perlu didorong melalui peningkatan produktivitas, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan SDM.

Direktur Polbangtan Medan, Nurliana Harahap, menegaskan komitmen lembaganya dalam menjembatani teori dan praktik, sekaligus mendorong pertanian sebagai sektor usaha yang menjanjikan.

Taufiq Bin Nur menjelaskan bahwa bauran energi nasional masih didominasi energi fosil. Namun, kontribusi energi baru terbarukan terus meningkat dengan target 45 persen dalam bauran energi nasional.

Ia menyoroti potensi biomassa pertanian, khususnya limbah kelapa sawit, yang dapat diolah melalui teknologi pirolisis dan gasifikasi menjadi sumber energi alternatif bernilai tinggi.

Sukmi Alkausar menekankan bahwa limbah pertanian memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik. Limbah pascapanen dapat diolah menjadi pupuk organik, pakan ternak, hingga bahan baku industri.

“Pemanfaatan limbah membuka peluang usaha baru dan meningkatkan pendapatan petani,” ujarnya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah pertukaran pengetahuan, memperluas jejaring, serta mendorong lahirnya inovasi generasi muda dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan.