Polbangtan Medan dorong petani milenial kembangkan Agroeduwisata

Polbangtan Medan dorong petani milenial kembangkan Agroeduwisata

Jumat, 30 Juli 2021

Medan (ANTARA) - Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan mendorong petani milenial untuk mengembangkan agroeduwisata, mengingat inovasi kreatif sangat dibutuhkan untuk mengembangkan sektor pertanian. 

"Apalagi, pertanian memasuki era baru dengan pendekatan berbasis online dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, menilai generasi milenial mampu menjadi petani sukses dengan memanfaatkan fasilitas dan bantuan yang ada. Dengan begitu, petani akan terus termotivasi untuk melakukan sebuah ide baru dan inovasi kreatif.

"Kemampuan riset dan teknologi yang kita miliki, pasti modern pertanian bisa dilakukan dengan baik," katanya.

Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Pertanian (Kementan) yang bergerak di pendidikan tinggi vokasi, sangat mendukung pembangunan SDM dengan penguatan terhadap generasi muda atau petani milenial.

Salah satu wujud dukungan tersebut ditunjukkan dengan gelaran webinar online Millenial Agriculture Forum (MAF) Polbangtan Medan, Rabu (28/7/2021). 

Topik yang diangkat adalah Pertanian Millenial Kreatif Pengembangan Agroeduwisata. 

Webinar menghadirkan tiga narasumber yakni Ahmadi (Pemilik Sawah Lukis Binjai), Sultan (Pengembang Agroeduwisata Solok Radjo) dan Hendri Limbong (Alumni STPP Medan dan pemilik kebun anggur) dan  dimoderatori oleh Jatu Barmawati.

Hadir secara virtual pada acara tersebut yakni Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan) Idha Arsanti,  serta 352 orang peserta.  

Dedi Nursyamsi mengatakan, dalam sambutannya bahwa ciri dari petani milenial itu adalah cerdas, pintar, penuh semangat dan penuh energi. 

"Selain itu, petani milenial juga umumnya haus terhadap pembaharuan, haus terhadap berbagai informasi teknologi pertanian," katanya. 

Dan tidak kalah penting, petani milenial itu umumnya menguasai IT, menguasai teknologi digital, menguasai berbagai teknologi alat-alat mesin pertanian, menguasai berbagai produk bioscience dan lain sebagainya.

“Dengan memadukan pertanian, edukasi dan wisata didalam satu tempat akan mampu menyeimbangkan kebutuhan kita. Agroeduwisata mampu meningkatkan kebugaran tubuh kita, meningkatkan ketahanan tubuh dan meningkatkan imunitas. Pertanian juga menghasilkan oksigen," katanya. 

Dedi menambahkan, situasi pandemi di Indonesia saat ini sangat memerlukan oksigen. Pertanian adalah penghasil oksigen terbesar. 

"Termasuk di lokasi agroeduwisata. Agroeduwisata juga mengandung pendidikan. Pendidikan bercocok tanam yang baik, panen yang baik, memilih buat yang baik, mengemas produk pertanian dengan baik dan belajar mencintai alam,” kata Dedi.

Kepala Pusdiktan, Idha Arsanti, mengatakan generasi milenial saat ini sangat paham bahwa pertanian penting dan pertanian itu tidak ada matinya karena sampai kapanpun kebutuhan pangan itu harus tetap ada. Kita juga harus mencapai pangan nasional.

“Berwirausaha disektor pertanian dengan melakukan upaya-upaya inovasi atau kreatifitas, dan pemanfaatan teknologi itu mengasikkan. Dapat dimulai dari hobby, rutinitas yang kemudian dapat dijadikan sebagai bisnis yang cukup popular. Saat ini yang banyak didorong adalah agroeduwisata," ungkapnya.

“Kebutuhan primer, tersier dan sekunder dapat dipenuhi oleh sektor  pertanian. Dan salah satu yang tidak boleh berhenti adalah belajar. Tidak hanya pendidikan formal, tapi belajar dapat dilakukan dimana saja. Setelah selesai mengikuti webinar ini, saya harapkan ada tindak lanjut anak-aanak muda untuk melakukan bisnis pertanian. 

Saya harap kedepannya anak-anak muda lebih banyak terlibat dan berkecimpung di sektor pertanian,” tambah Idha Arsanti.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Polbangtan Medan Yuliana Kansrini mengatakan pertanian merupakan sektor yang tetap bertahan dimasa pandemi dan menjadi tumpuan kehidupan ketika masyarakat banyak yang kehilangan pekerjaan. 

“Artinya kita harus bersyukur sebagai insan pertanian tetap bisa beraktifitas dan berkontribusi untuk mempertahankan kecukupan pangan,” kata Yuliana.

Keberlanjutan pertanian dalam menyediakan pangan sangat tergantung kepada SDM pertanian. Pengembangan SDM penting karena tidak hanya sekedar faktor produksi melainkan pelaku langsung dari pembangunan pertanian.